Ilustrasi mudik. (Foto: Google)
Ilustrasi mudik. (Foto: Google)

Mudik jelang perayaan hari raya Idul Fitri atau lebaran sudah menjadi rutinitas tahunan bagi masyarakat Indonesia. Namun, di tengah pandemi Covid-19 yang semakin meluas di Indonesia, warga diimbau untuk mengurungkan rencana mudik. 

Meski begitu, pemerintah pusat tidak melarang jika masih ada yang nekat melaksanakan mudik ke daerah. Akan tetapi, perantau yang ingin mudik ke Kota Malang harus bersiap dengan pembatasan.

Pasalnya, saat ini Pemkot Malang tengah mengajukan permohonan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Sebelum izin PSBB turun, Pemkot Malang tengah menyiapkan rumah karantina. Rumah ini nantinya untuk menampung para pemudik yang terindikasi terpapar Covid-19.

Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan, ada tiga tempat karantina yang saat ini tengah dipersiapkan Pemkot Malang. Yakni, di Balai Diklat milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berkapasitas sekitar 300 orang. 

Selain itu, ada Rusunawa milik Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), dan Rusunawa bantuan dari kementerian PUPR dengan jumlah kamar sekitar 60-70 an.

"Dari tiga tempat itu, Rusunawa miliknya Unikama saya mendelegasikan kepada Dinkes dan Pak Camat untuk melihat ke sana kekurangannya apa. Kira-kira kalau di akumulasi total, satu kamar kita lihat mungkin diisi dua bed ya, maka kesiapan kita berkaitan dengan ruang transit antara 500 sampai 600 dan bisa jadi nanti bilangannya kita siapkan sampai 1000," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, penyediaan rumah karantina ini merupakan instruksi dari Gubernur Jawa Timur, yang mana hal itu sebagai salah satu langkah memutus penyebaran Covid-19.

Nantinya, rumah karantina ini bakal diperuntukkan bagi para pemudik. Khususnya, bagi yang mendekati indikasi Covid-19 atau berstatus ODP (Orang Dalam Pantauan). Sehingga, statusnya tidak meningkat menjadi PDP (Pasien Dalam Pemantauan) dan akan lebih terpantau dengan maksimal supaya tidak berubah status menjadi pasien positif Covid-19.

"Jadi itu kegunaannya teman-teman kita nanti yang ODP, mana kala kita mempunyai keyakinan secara psikologi bahwa orang itu ketika dilepas dia tidak bisa mengisolasi diri. Kemudian, proses bahwa jangan sampai yang ODP menjadi PDP dan kalau PDP ya jagan sampai dia jadi positif," ungkapnya.

Sementara itu, proses pengetatan akses keluar masuk pendatang Pemkot Malang telah menyediakan empat posko yang tersebar di beberapa titik. Yaitu, di Terminal Landungsari, Hawai Water Park, Terminal Arjosari dan Stasiun Malang. Posko-posko tersebut dijaga oleh petugas kesehatan, Dinas Perhubungan, dan TNI-Polri.

"Sehingga bagi mereka yang datang dari zona merah dan saat dicek suhu badannya 38 derajat maka nanti sesuai protap dari Dinkes Kota Malang, apakah bisa untuk isolasi mandiri, apa harus lebih lanjut mendapat penganan di Puskesmas terdekat, atau transit di tempat karantina dulu sekitar 14 hari," tandasnya.