Peta terbaru titik kerawanan penyebaran Covid-19 di Jatim
Peta terbaru titik kerawanan penyebaran Covid-19 di Jatim

Empat hari sudah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengumumkan perkembangan terbaru penyebaran Covid-19. Kota Surabaya selalu jadi urutan pertama terbanyak positif Covid-19.

Terakhir pada Minggu (22/3) malam Pemprov Jatim mengumumkan ada penambahan sebanyak 41 orang positif Covid-19. Terbanyak masih di Kota Pahlawan dengan mencapai 29 orang dari angka sebelumnya yang hanya 20 orang saja pada Sabtu (21/3).

Angka puluhan itu terbanyak dibanding daerah lainnya. Karena di tempat lain hanya mentok lima saja seperti di daerah Malang Raya.

Memang sejauh ini belum ada korban meninggal di Surabaya. Tapi adanya fakta 29 orang positif Covid-19 cukup membuat resah masyarakat di Kota Pahlawan.

Dalam sesi konferensi pers Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan ada 15 tambahan baru pasien positif Covid-19. 

"9 dari Surabaya, 2 dari Sidoarjo, 3 Malang dan 1 Kabupaten Blitar. Artinya dari daerah terjangkit ada tambahan satu yaitu Kabupaten Blitar," ujarnya merinci.

Dia melanjutkan dari hasil tracking juga terjadi banyak penambahan. Sehingga orang dalam pantauan (ODP) bertambah sebanyak 999 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) bertambah sebanyak 88 orang.

"Perkembangan rawat inap dan ruang observasi yang bisa kita siapkan, ada 1776 bed per sore ini. Rumah sakit rujukan bertambah satu, yakni RS Klinik Jember, jadi ada 63 RS rujukan," bebernya.

Dari sini Khofifah menghimbau agar masyarakat Jatim menghindari keramaian. "Mohon semuanya bisa ditunda. Salah satu rumusnya menghentikan hal yang mengundang keramaian," tegas dia.

Keesokan hari pihak Pemprov Jatim berencana memadukan penyemprotan disinfektan dengan program padat karya di beberapa tempat. "Satpam, tukang becak dan penjual di sekolah," imbuhnya.

Jika Pemprov Jatim sudah merinci titik penyebaran Covid-19, lain halnya dengan Pemkot Surabaya. Dengan adanya 29 orang yang positif Covid-19 tak ada pengumuman peta titik kerawanan dengan rinci di tingkat kecamatan atau kelurahan. 

Padahal di daerah lain semisal Kota Jakarta dan Kota Malang sudah merinci peta titik rawan mulai dari tingkat kecamatan hingga kelurahan.

Hingga Minggu (22/3) menjelang pukul 00.00 WIB, aktivitas media sosial milik Pemkot Surabaya belum mengeluarkan peta titik kerawanan.

Beberapa pihak yang dikonfirmasi langsung oleh SurabayaTIMES pun tak responsif dan malah cenderung mengabaikan. Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara dan Kepala Diskominfo M. Fikser tak menjawab telpon yang ditujukan. Demikian juga pesan singkat hanya dibaca saja dengan tanda centang dua.

Sikap tak komunikatif dan cenderung tertutup dari Pemkot Surabaya ini lagi-lagi mendapat kritikan dari Wakil Ketua Fraksi PKB DPRD Surabaya Mahfudz. 

"Surabaya tidak terbuka terkait berapa jumlah warga kita yang sudah positif Covid-19. Makanya itu bagaimana bisa melokalisir jika data saja tidak punya," imbuhnya.