Tim Damkar Satpol PP Tulungagung saat razia sarang tawon di desa Bendilwungu / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Tim Damkar Satpol PP Tulungagung saat razia sarang tawon di desa Bendilwungu / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Setelah publik dihebohkan dengan berita serangan tawon ndas di Jawa Tengah, Tim Damkar Satpol PP Tulungagung langsung bertindak cepat. Salah satunya dengan mendatangi lokasi ditemukannya sarang tawon Vespa affinis itu di Desa Bendilwungu, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Minggu (01/12) siang. 

Sarang tawon tersebut berada di atap samping rumah milik Rodjiman (81) warga RT 03 RW 1 Desa Bendilwungu. Dalam pengamatan, sarang tersebut tampak sebesar buah kelapa yang besar dengan bentuk lonjong. "Sudah sekitar tiga hari diketahui, jadi kami melakukan antisipasi," kata pemilik rumah, Rodjiman.

Setelah mengetahui sarang tawon, Jiman mengaku berusaha mengatasi sendiri. Namun karena letaknya yang sulit dijangkau, Jiman kebingungan untuk mengeksekusi tawon yang berbahaya jika bisa dari sengatannya mengenai manusia.

"Rencana mau saya bakar, tapi takut nanti malah rumah saya terbakar. Mau saya jatuhkan memakai galah, nanti tawonnya ngamuk juga bahaya," ungkapnya.

Setelah konsultasi senang anaknya, Jiman memutuskan untuk memanggil Tim Damkar Satpol PP Tulungagung agar mengevakuasi sarang tawon yang diperkirakan isinya sudah mencapai ratusan ekor itu.

"Ini sudah kesekian kali, memang setelah jadi perhatian di Jawa Tengah, kami banyak mendapat keluhan warga untuk kemudian kita atasi," kata Komandan Regu (Ndanru) tim Damkar Joko Murnianto di lokasi.

Dengan memakai peralatan khusus berupa pakaian anti sengat, helm berkaca dan masker mirip astronot, dua personel Damkar naik ke atap rumah tempat sarang itu berada. "Alatnya plastik, namun ini perlu ketrampilan. Jika ada kesalahan sedikit, bisa fatal," terang Joko.

Setelah plastik dibuka, pelan-pelan dari bawah plastik dinaikkan hingga sarang tawon masuk. Kemudian, ujung plastik ditutup dan sarang tawon yang masuk ditali dalam plastik tanpa ada lubang untuk keluar.

"Jika sudah masuk, kita tutup dan kita bawa. Biasanya kita diamkan dua hari, tawon ini semua akan mati kehabisan nafas," jelasnya.

Pernah suatu ketika, menurut Joko, terjadi kesalahan prosedur. Akibatnya, dua personel mengalami sengatan di bagian kaki.

"Saat itu personil saya memakai celana biasa karena celana anti sengat basah. Kemudian tawon mengamuk dan empat ekor menyengat kaki satu personel, sedangkan satu personel lain terkena tiga sengatan," ungkap Joko.

Sebelumnya, tawon ndas liar (alas) itu juga menyengat salah satu pemilik rumah. Sengatan puluhan ekor tawon itu berakibat fatal sehingga korban harus masuk dan dirawat di Puskesmas setempat.

Laporan warga yang belakangan ditangani menurut data yang di kumpulkan di antaranya di Gesikan Kecamatan Pakel, Bendo Kecamatan Gondang, Rejotangan dan Desa Bendilwungu Kecamatan Sumbergempol.

"Kesulitan kami biasanya masalah lokasi, tawon jenis ini sering bersembunyi di ketinggian jika membuat sarang," pungkasnya.