Harga Ayam Terjun Bebas, Peternak Terancam Gulung Tikar

Ayam potong (ist)
Ayam potong (ist)

TULUNGAGUNGTIMES – Harga ayam pedaging atau ayam broiler di Tulungagung dalam 2 minggu terakhir ini kian terjun bebas.  

Anjlok harga ini diakibatkan produksi yang berlebih pada peternak. Akibatnya, peternak harus menanggung kerugian hingga 80 persen lebih, hingga terancam gulung tikar.

Agus Hadi misalnya, peternak ayam mandiri yang beralamat di Desa Pojok, Kecamatan Ngantru. Dia mengatakan anjloknya harga ayam kali ini, sudah dirasakan sebelum Lebaran dan semakin drastis hingga minggu ini.

Harga ayam yang hidup di tingkat peternak pada minggu lalu sudah memyentuh Rp15.000/kg dan kian anjlok menjadi Rp 9.500/kg. Harga tersebut lebih murah dari harga bumbu dapur.

"Tiga hari yang lalu Rp 8.500/kg, kemarin naik Rp 9.500/kg ," katanya.

Harga ayam normalnya di tingkat petani adalah Rp 18.000 – Rp 21.000/kg seusai dengan hitungan biaya operasional dan termasuk keuntungannya.

Dampak harga anjlok ini sangat dirasakan oleh para petani mandiri seperti dia. Karena, dari pakan, operasional memakai biaya sendiri. Beda dengan peternak yang bermitra dengan pihak swasta, yang mana ada kontrak harga sehingga tidak merugi secara signifikan.

“Umur ayam pedaging itu 48 hari. Itu sudah harus lepas dan tidak bisa ditunda panennya karena harga pakan juga mahal,” imbuhnya.

Kendati demikian, karena melihat harga ayam terus anjlok membuat beberapa petani, termasuk dia memilih menahan ayamnya, dengan harapan harga akan kembali normal dalam beberapa waktu kedepan.

Saat ini ayam di kandangnya sudah berusia 42 hari dengan rata-rata bobot mencapai 2,7 kilogram. Bukan tanpa resiko, menahan ayam lebih lama lagi memiliki resiko kematian yang cukup tinggi.

"Ya prediksi seminggu kedepan harga mulai naik. Kalau nggak, ya otomatis gulung tikar karena pengeluaran cukup besar sudah menambah pakan, walaupun pakan hanya jagung," terangnya.

Berbeda dengan Agus Hadi, peternak ayam lainya, Ahmad Wahyu Gunawan. Meski merugi lantaran harga anjlok, dia memilih menjual ayamnya dengan harga Rp 9 ribu/kg.

Dirinya mengaku sudah tidak bisa menanggung beban pakan yang cukup mahal. Bahkan kini usahanya juga menurun, jika sebelumnya, kandangnya bisa diisi kurang lebih 5 ribu ayam, kini hanya mampu mengisi 3 ribu ayam.

"Kerugian cukup banyak. Sekitar Rp 80 juta hasil panen kemarin," katanya.

Dia memprediksi harga ayam akan mulai stabil satu hingga dua minggu kedepan. Namun dia berharap, untuk terus ada pemantauan dari dinas terkait untuk harga agar peternak tidak merugi. Serta ada pembatasan dari peternak besar, sehingga semua bisa mengisi pasar baik dari peternak kecil ataupun besar. 

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tulungagungtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tulungagungtimes.com | marketing[at]tulungagungtimes.com
Top