5 Hari DPO, Kirun Akhirnya Menyerah

Kapolsek Ngunut, Kompol Siti Nurinsana saat menunjukan barang bukti pil dobel L dan Sabu milik Kirun (foto : Joko Pramono /Jatim Times)
Kapolsek Ngunut, Kompol Siti Nurinsana saat menunjukan barang bukti pil dobel L dan Sabu milik Kirun (foto : Joko Pramono /Jatim Times)

TULUNGAGUNGTIMES – Sempat melarikan diri dari penangkapanya pada 16 Mei lalu, Kirun  alias Ari Irawan menyerahkan diri pada pihak Kepolisian, Selasa (21/5/19). 

Selama 5 hari dalam pelariannya, Kirun mengaku berada di kota Batu, Malang.

Sedang teman satu komplotan Kirun, Aang Mustofa berhasil dibekuk saat akan melakukan transaksi penjualan obat terlarang di Desa Sumberingin Kidul Kecamatan Ngunut, Tulungagung, pada 16 Mei lalu.

Kirun merupakan warga RT. 2/1 Dusun Umbul Sewu Desa Kaliwungu Kecamatan Ngunut, Tulungagung, sedang Aang Mustofa warga RT. 4/1 Dusun Sumur warak, Desa Purworejo Kecamatan Ngunut, Tulungagung.

Dalam penangkaan Aang beberapa waktu lalu, petugas berhasil mengamankan setidaknya 3 ribu lebih pil dobel L dan satu alat hisap sabu.

Sedang dari kediaman Kirun di Desa Sumberejo Wetan Kecamtan Ngunut, dengan disaksikan perangkat desa setempat, petugas mengamankan setidaknya 625 pil dobel L, 2 poket sabu lengkap dengan alat hisapnya (bong).

Dari pengakuan Kirun diketahui, jika jual beli pil dobel L ini dikendalikan dari dalam Lapas di Madiun. 

Kirun mendapatkan barang haram itu dari seseorang bernama Gepeng yang saat ini mendekam di dalam lapas.

“Dari Gepeng, (yang) saat ini berada di Lapas Madiun,” ujar Kirun pada awak media, Kamis (23/5/19).

Dari mulut Kirun terungkap 3 ribu pil dobel L itu dibeli dengan harga Rp. 1.800.000,- atau 600 ribu per seribu butirnya.

Kirun sudah menjalankan bisnis haramnya sejak satu tahun lalu,

Untuk narkotika jenis sabu yang ditemukan di rumahnya, Kirun mengaku hanya untuk konsumsi sendiri. Satu gram sabu diperolehnya dari orang yang sama, “gepeng” dengan harga 1,1 juta.

“(sabunya) enggak ada (yang dijual),” Ujar Kirun dengan wajah ditutup kertas.

Sementara itu Kapolsek Ngunut, Kompol Siti Nurinsana Natsir mengatakan jaringan Kirun yang dikendalikan dari dalam Lapas. 

Untuk mendapatkan barang haram itu bisa dilakukan melalui telepon.

“Transaksi di transfer uangnya, barangnya disimpan disuatu tempat dan disuruh ambil,” ujar wanita berjilbab itu.

Dalam transaksinya, pengedar barang haram itu mengandalkan jasa kurir yang meletakan barang haram di suatu tempat.

Kirun dan Aang merupakan satu komplotan komplotan dengan Kirun sebagai pemimpinya, mengingat mereka sudah menjalankan aksinya sejak setahun yang lalu.

“Ini merupakan jaringan baru,” terang Siti.

Keduanya dijerat dengan Undang-undang narkotika dan Undang-undang kesehatan.

“Untuk Ari (Kirun) UU Narkotika, Aang UU Kesehatan,” tandas Siti.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tulungagungtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tulungagungtimes.com | marketing[at]tulungagungtimes.com
Top