Sosialisasi KKBPK di Kalidawir, Ir Budi Yuwono: KKBPK Kunci Menciptakan Tenaga Terampil Siap Kerja

Ir Budi Yuwono, anggota Komisi IX DPR RI, memberikan paparan dalam sosialisasi KKBPK di Desa Kalidawir.(Foto : Team BlitarTIMES)
Ir Budi Yuwono, anggota Komisi IX DPR RI, memberikan paparan dalam sosialisasi KKBPK di Desa Kalidawir.(Foto : Team BlitarTIMES)

TULUNGAGUNGTIMES, BLITAR – Anggota Komisi IX DPR RI Ir Budi Yuwono bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur menggelar sosialisasi, advokasi dan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di Desa Kalidawir, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Kamis (14/3/2019).

Dalam kesempatan ini, Ir Budi Yuwono menekankan pentingnya menciptakan generasi muda yang tangguh. Menurut dia, keluarga di era saat ini harus mampu menciptakan generasi milenial tangguh, terampil dan siap kerja.

“Kehadiran saya di sini untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait pentingnya program KB. KB dewasa ini kemasannya baru, yakni KKBPK. Salah satu tujuan dari KKBPK adalah menciptakan generasi masa depan yang produktif, terampil, tangguh. Generasi milenial kita harus mampu mengolah dan menghasilkan karena SDM kita sangat banyak,” tegas wakil rakyat dari PDIP ini.

Dikatakannya, era milenial saat ini banyak tantangan yang dihadapi. Seperti mal yang mulai redup karena geliat bisnis online. Oleh sebab itu, Ir Budi menilai program kependudukan jangan hanya fokus pada kontrasepsi saja, melainkan juga fokus pada pembangunan keluarga untuk mencipatakan generasi muda berkualitas.

"Kuncinya ada di KKBPK. Jangan nikah dini dan jangan menikah karena kecelakaan. Fondasi keluarga harus diperkuat untuk menciptakan generasi milenial berkualitas,” tegasnya.

Ir Budi menegaskan, jumlah penduduk harus dikendalikan. Jika tidak, maka satu rumah akan di isi oleh 3-4 kepala keluarga. Dan tentunya, kondisi ini akan berpengaruh teradap perekonomian, termasuk keluarga. "Jadi, jumlah penduduk harus dikendalikan agar hidup itu enak. Dua anak cukup keluarga sejahtera,” tegasnya.

Lebih dalam anggota dewan yang dikenal merakyat menyampaikan, Komisi IX DPR RI terus berkomitmen untuk mendukung program KKBPK. Sebab, program ini juga dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keluarga berencana serta mendorong masyarakat untuk mengikuti program KB.

"Kami di DPR sangat mendukung program KKBPK ini. Setiap tahun program ini selalu kami bawa ke daerah. Soalnya, program ini juga dapat dengan mengatur jarak ibu melahirkan, sehingga pengendalian jumlah penduduk bisa terwujud," jelentrehnya.

Sementara itu, Suhartutik -kabid KSPK BKKBN Provinsi Jawa Timur selaku narasumber- dalam paparannya menyampaikan program KKBK penting untuk mencegah stunting dan pernikahan dini. Program KIE bersama mitra kerja ini adalah upaya untuk menekan tumbuhnya angka penduduk dan meningkatkan keluarga sejahtera. 

“Masyarakat di desa punya peran strategis mensukseskan program ini. Oleh karenanya, mereka harus memiliki pemahaman pentingnya KB untuk kesejahteraan warga," tukasnya.

Lanjut di kesempatan ini, Suhartutik mewanti-wanti jangan menikah muda karena banyak problema. Problema yang dihadapi pasangan yang menikah dini, selain memiliki banyak anak, biasanya pernikahan juga tidak bertahan lama. Hal ini dikarenakan banyak pasangan di bawah 18 tahun yang belum cukup dewasa menghadapi kompeksnya masalah rumah tangga.

"Banyak kasus pernikahan yang dilakukan pasangan di bawah umur 18 tahun, pernikahan paling hanya 1-2 tahun. Kalau cuma 1-2 tahun lalu untuk apa menikah,” katanya.

Dia menerangkan, menikah berarti membina rumah tangga yang baik. Dari keluarga ini nantinya diharapkan lahir generasi-generasi yang hebat, kuat dan sehat. Karena itu, soal anak pun harus direncanakan dan bukan sekadar menikah.

Problema lainnya, jika menikah dilakukan oleh perempuan berusia di bawah 20 tahun, maka akan mengalami risiko kematian ibu lebih tinggi saat melahirkan. Sebelum usia 20 tahun, organ reproduksi perempuan belum cukup kuat, karena itulah risiko kematian ibu menjadi tinggi.

"Selain itu, risiko kematian ibu  lebih tinggi pada perempuan yang anaknya banyak dibanding yang anaknya sedikit. Juga ibu yang jarak melahirkan anak yang satu dan lainnya dekat,” paparnya.

Sosialisasi dimeriahkan dengan kesenian tradisional tari-tarian serta ditutup dengan doorprize, mulai dari handphone, kipas angin, setrika, televisi dan sepeda. Di kesempatan ini Ir Budi Yuwono juga memberikan sound system kepada Pemerintah Desa Kalidawir.

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tulungagungtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tulungagungtimes.com | marketing[at]tulungagungtimes.com
Top