Gunakan Dana Pribadi, Klub Bulu Tangkis PB Djagung Berdiri Hingga Cetak Atlet Berprestasi

Tim PB Djagung ketika mengikuti Kejurkot di Kota Malang (PB Djagung for MalangTIMES)
Tim PB Djagung ketika mengikuti Kejurkot di Kota Malang (PB Djagung for MalangTIMES)

TULUNGAGUNGTIMES, MALANG – Kecintaannya kepada bulutangkis, membuat Fandy Achmad mendirikan sebuah klub bernama PB Djagung pada April 2015 lalu walau tidak bermodalkan dana yang besar. Namun keyakinannya mencetak pemain handal, akhirnya klub ini bisa bertahan hingga saat ini.

Di kawasan Jalan Ki Ageng Gribig No. 2, PB Djagung menjadi sebuah klub yang menampung siswa dan siswi mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama belajar.

Diceritakan awal Fandy mendirikan PB Djagung adalah sebuah keinginan bersama karena keluarganya juga senang bermain bulutangkis. Akhirnya, karena kenal dengan dua orang pelatih yang bernama Rohman dan Yudha, jadilah didirikan klub tersebut.

Awal mendirikan PB Djagung, Fandy hanya memiliki 10 siswa yang belajar, karena saat itu ia menggunakan satu line lapangan. Seiring berjalannya waktu, banyak anak-anak yang ingin belajar bulutangkis dan ia memutuskan untuk menambah line dengan biaya sendiri hingga mencapai 6 line.

PB Djagung saat mengikuti kejuaraan di UIN Malang (PB Djagung for MalangTIMES)Atlet dan juga pengurus PB Djagung di lapangan latihan (PB Djagung for MalangTIMES)

"Awal dulu cuma 10 mas, terus karena banyak yang mendaftar akhirnya saya menambah line menjadi 6," ucap Fandy.

Dengan semakin bertambahnya murid, Fandy memutuskan untuk menambah pelatih agar tidak timpang. Dan kini total ada 7 pelatih yang mengakomodir hampir 100-an murid di PB Djagung. "Ya kasihan jika pelatihnya cuma sedikit, akhirnya saya tambah agar hasilnya juga maksimal," katanya.

Selama berdiri, Fandy mengaku tidak ada sponsor yang membantu pendanaannya. Hal tersebut juga menjadi kendalanya ketika ada event nasional untuk atletnya. "Tidak ada sponsor sama sekali, ini murni dana pribadi mulai awal buka. Tapi sekarang ada SPP untuk membantu membayar pelatih," ujarnya.

Meski begitu, ia tetap bersyukur karena tidak pernah kesulitan untuk perlengkapan latihan, seperti cock. "Alhamdulillah kalau cock kami kerjasama dengan prospek, dan setiap bulan kami dijatah sekitar 15 slop," katanya.

Lanjut Fandy, di PB Djagung ini memang ia memfokuskan untuk mencetak pemain, karena jika mendidik atlet hingga ikut kejuaraan nasional, kembali dana yang menjadi kendalanya.

"Beberapa atlet sudah ada yang gabung klub yang greatnya sudah nasional, seperti Juan N Sutanto di klub Mutiara Cardinal Bandung dan Arfandia di klub Candrawijaya," ungkap Fandy. "Jadi intinya kami itu lebih ke pembinaan pemain, tapi bila ada klub yang menginginkannya, ya kami welcome saja," imbuhnya.

Untuk saat ini, PB Djagung hanya fokus pada kejuaraan hingga level Jawa Timur saja. "Kami hanya fokus itu saja, untuk Sirnas kami tidak bisa ikut karena digelar di luar kota dan dana pasti sangat besar, kami tidak mau membebankan pada orang tua wali," tutur Fandy.

Ke depan, Fandy Achmad berharap PB Djagung bisa mengikuti gelaran event kejuaraan nasional, karena itu adalah tolak ukur untuk atletnya dapat dipantau Timnas Indonesia. "Ya harapan kami agar bisa ikut event yang lebih besar lagi agar atlet kami banyak yang jadi," harapnya.

Lebih dari itu, untuk orang tua wali yang ingin anaknya belajar bulutangkis, Fandy menuturkan bahwa jadwal latihan seminggu full mulai dari siang hari. 

"Langsung saja daftar ke sini, mengisi formulir dan ada biaya pendaftaran Rp. 150.000. Nanti akan dilihat dulu oleh pelatih anak tersebut membutuhkan pelatihan seperti apa, misal yang tidak bisa sama sekali atau yang sudah punya dasar," pungkasnya.

 

Pewarta : Hendra Saputra
Editor : Heryanto
Publisher : Yogi Iqbal
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tulungagungtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tulungagungtimes.com | marketing[at]tulungagungtimes.com
Top