Penderita TBC Tinggi, Pemkab Buat Perda Penanggulangan TBC

ilustrasi TBC
ilustrasi TBC

TULUNGAGUNGTIMES – Tingginya angka penderita Tuberculosis (TBC) di Tulungagung, disikapi serius oleh pemangku kebijakan Tulungagung. Buktinya, Tulungagung 1 dantara 3 kabupaten yang memiliki Rancangan Peraturan Daerah (ranperda) tentang penanggulangantuberculosis, yang saat ini masih dalam pembahasan di DPRD.

Pembahasan ranperda dilakukan kemarin (Senin, 15/10) di ruang aspirasi DPRD Tulungagung.  Ketua Panitia Khusus III, Imam Khoirudin menuturkan ranperda ini merupakan amanat dari Peraturan Menteri Kesehatan nomer 67 tahun 2016, yang mana pemerintah daerah harus menyediakan anggaran untuk penanggulangan Tuberculosis.

“Saat kita ke Kementrian Kesehatan, di Indonesia hanya 3 daerah yang punya Perda Tuberculosis, termasuk Tulungagung,” ujar politisi asal Partai Amanat Nasional itu.

Deteksi penderita penyakit ini masih sangat minim. Baru sekitar 30% penderita yang terdeteksi. Untuk penganggaran sendiri nantinya akan disesuaikan dengan kemampuan daerah. Namun didirnya pastikan akan ada pos anggaran untuk penanggulangan tuberculosis pada tahun 2019 mendatang.

“Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa disahkan (Perda tuberculosis),”kata Imam Khoirudin dengan yakin.

Saat ini Tulungagung menganggarkan sekitar 20% dari APBD nya pada sektor kesehatan. Penanganan tuberculosis nantinya akan melibatkan seluruh fasilitas kesehatan, baik milik pemerintah maupun milik swasta. Sanksi berat bakal menanti jika fasilitas kesehatan tidak menjalankan peranya daam penanggulangan TBC.

“Ada sanksi kalau tidak menjalankan apa yang kita perdakan ini, termasuk mendata, mencatat dan mengobati sesuai standar operasional yang ada,” bebernya lebih lanjut.

Sanksi yang diberikan mulai sanksi administrasi hingga pencabutan ijin operasional bagi fasilitas kesehatan swasta, tergantung fatal tidaknya pelanggaran yang dilakukan.

Sementara itu Didik Eka, Kasi Penangguanga dan pengendalian penyakit menular pada Dinkes Tulungagung, paparkan jumlah penderita TBC di Tulungagung yang mencapai 864 pasien per September 2018.

Jumlah itu menurut Didik masih jauh dari harapan. Pasalnya pihaknya ditargetkan menemukan 2.984 pasien TBC. “Masih ada beberapa PR, 2/3 lagi harus kita temukan di 3 bulan terakhir ini,” tutur Didik Eka.

Sejak 2017-2018 pihaknya telah temukan 28 pasien TBC yang resistan obat. Pasien resistan membutuhkan waktu pengobatan lebih lama hingga 2 tahun jika dibandingakn dengan pasien TBC umumnya yang hanya 6-12 bulan pengobatan. Seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah.

Bahkan ada tenaga pendidik yang terindikasi mengidap TBC. Untuk mencegah penularan terhadap siswa yang diajarnya, pihaknya telah mengeluarkan anjuran agar tenaga pendidik itu untuk sementara tidak melakukan tatap muka dengan siswanya, lantaran penyakit ini bisa ditularkan melalui percikan ludah.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tulungagungtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tulungagungtimes.com | marketing[at]tulungagungtimes.com
Top