Setio Hadi, Pelestari Batik Khas Tulungagung

Setio Hadi saat ditemui kru Tulungagung TIMES di showroom batik yang dikelolanya. (Sutrimo/Tulungagung TIMES)
Setio Hadi saat ditemui kru Tulungagung TIMES di showroom batik yang dikelolanya. (Sutrimo/Tulungagung TIMES)

TULUNGAGUNGTIMES – Kupu-kupu bersayap ukiran beterbangan melintasi burung yang bertengger di ujung dahan bambu yang melengkung seperti bulan sabit. Lima batang bambu berdiri kukuh. Dua di antaranya bertemu, bersilang membentuk huruf X.

Itulah salah satu motif batik khas Tulungagung. Motif ini merupakan salah satu goresan lembut tangan Setio Hadi, pembatik asal Tulungagung. Pada  2016 lalu, motif ini didapuk sebagai desain terbaik dalam gelaran lomba desain batik tingkat Jawa Timur.

Sebagai seorang pecinta batik, Setio Hadi tidak segan untuk belajar dan memperdalam pengetahuan tentang batik kepada orang lain. Prestasi yang diraihnya ini juga tidak lepas dari hasil usaha kerasnya belajar membatik.

Setio Hadi terjun ke dunia batik mulai tahun 2013. Dia mendatangkan pembatik senior dan berlatih mulai dari nol sampai tahu tentang batik. "Saya menikmati terjun ke dunia batik,” ungkapnya kepada Tulungagung TIMES saat ditemui di showroom-nya di  Kelurahan Tanon, Tulungagung.   

Pria pengagum barang-barang ukiran kuno ini juga menjelaskan beberapa motif batik yang dibuatnya. Namun yang menjadi ikon Tulungagungan didominasi motif batik Gajah Mada, pring gatuk, kemanten dandan, motif Sarinah, dan motif telaga buret.

Ditanya tentang  perhatian masyarakat terhadap batik, Setio Hadi mengatakan, pasca-dideklarasikan bahwa batik merupakan salah satu warisan lelulur khas Indonesia oleh UNESCO (United Nations Educational Scientific and Culture Organization) pada 2 Oktober 2009 lalu, masyarakat kita ikut bangga dan ikut mendukung pelestarian batik.

“Sekarang ini anak-anak muda pun mulai mencintai batik. Sebelumnya kurang populer. Batik  dianggap identik dengan orang tua dan saat hajatan. Tapi sekarang, dengan perkembangan  fashion, anak-anak muda akhirnya bangga memakai batik,” ujar dia.

Aneka batik kreasi Setio Hadi ini juga sangat beragam harganya. Dari mulai harga Rp 200 ribu sampai Rp 1 juta ke atas. Tergantung motif dan jenis batiknya. Namun yang paling tinggi harganya adalah batik canting (hand made).

Sebagai pelestari budaya, Setio Hadi berharap ke depan batik Tulungagung lebih dikenal lebih luas. “Harapan ke depan, semoga batik lebih dicintai masyarakat, khususnya kalangan anak muda,” pungkas dia. (*)

Pewarta : Sutrimo
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tulungagungtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tulungagungtimes.com | marketing[at]tulungagungtimes.com
Top