Suasana santai di salah satu warung kopi Tulungagung sebagai salah satu implementasi istilah "ayo ngopi” dari beberapa kenalan yang lama tidak bertemu, Kamis 4/5/2017. (Foto: Sutrimo-Tulungagung TIMES)
Suasana santai di salah satu warung kopi Tulungagung sebagai salah satu implementasi istilah "ayo ngopi” dari beberapa kenalan yang lama tidak bertemu, Kamis 4/5/2017. (Foto: Sutrimo-Tulungagung TIMES)

Bicara pernak-pernik tradisi minum  kopi di Tulungagung memang tidak ada habisnya. Ada saja hal yang unik dan menarik serta menggelitik telinga orang yang mendengar.

Di kalangan anak muda Tulungagung, ada fakta unik terkait dengan terminologi “ayo ngopi”. Sepintas kata ini tampak biasa saja. Namun, siapa sangka ternyata kata ini mengisyaratkan beragam makna.

Umumnya, "ayo ngopi" dimaknai ajakan atau tawaran seseorang kepada temannya untuk pergi ke warung kopi sekadar menikmati kopi bersama-sama.

Namun, kata ini juga dijadikan simbol untuk mengungkap pesan  implisit yang dalam. Kisah ini diceritakan Kucrit (26), pemuda Tulungagung pecinta kopi dan sering nongkrong di salah satu warung kopi.

Menurut Kucrit, ketika ada dua anak muda atau dua komunitas yang sedang mengalami cekcok atau bentrok. Salah satu dari dua kubu ini, atau mungkin juga pihak ketiga, spontan berucap “ayo ngopi” kepada kedua kubu yang sedang berseteru.

“Ayo ngopi” dalam konteks ini tidak semata-mata ajakan untuk  ngopi. Ada pesan penting yang tidak terungkap secara langsung, yaitu ajakan untuk menyelesaikan permasalahan dua kubu yang berseteru. "Kata 'ayo ngopi' juga dipergunakan ketika mengajak teman dengan maksud membicarakan hal penting, seperti bisnis dan kegiatan sosial” kata Kucrit pada Tulungagung TIMES, Kamis 4/5/2017.

Selain itu, kata “ayo ngopi” juga banyak dipergunakan ketika kedua sahabat atau teman sudah lama tidak bertemu dan kebetulan berpapasan di jalan atau mendadak ditelepon. “Dalam konteks ini, ajakan “ayo ngopi” dimaksudkan sebagai forum pertemuan silaturahmi untuk temu kangen dan sekadar ngobrol santai dengan teman yang sudah lama tidak berjumpa,” imbuh Kucrit.

Yang paling unik lagi yang diungkapkan Awe (19). Dia mengatakan, “ayo ngopi” untuk mengajak temannya ke warung. Padahal sesampainya di warungm Awe tidak pesan kopi, melainkan minum es teh.

“Entah kenapa rasanya ketika saya merasa haus kemudian mengajak teman ke warung dan berkata 'ayo ngeteh' kurang enak didengar di telinga. Yang pas itu tetap 'ayo ngopi' meski yang saya pesan itu es teh” ucap Awe.

Berbeda dengan dua narasumber di atas, Budi (20) justru sebaliknya. “Saya berucap 'ayo ngopi' kepada teman saya ketika memang dalam satu hari belum minum kopi sama sekali dan belum mengisap rokok barang satu pun,” ungkapnya.

Dalam konteks ini, istilah “ayo ngopi” yang diucapkan Budi menandakan bahwa ia benar-benar dalam kondisi bokek tidak punya uang sama sekali. (*)