Kemasan biji kopi hijau yang siap didistribusikan, Kamis (13/4/2017) (Foto: Sutrimo/ TulungagungTIMES)
Kemasan biji kopi hijau yang siap didistribusikan, Kamis (13/4/2017) (Foto: Sutrimo/ TulungagungTIMES)

Salah satu kunci sukses adalah pintar melihat potensi dan peluang usaha. Hal inilah yang dilakukan Evi Lathifatun Nisa, mahasiswi IAIN Tulungagung yang menemukan peluang produk Kopi Hijau penurun berat badan dan detoksifikasi.

Ide kopi pelangsing ini berawal dari pekerjaan sambilan yang ia tekuni di sela-sela kuliah sebagai pembuat sekaligus pendistribusi sambal pecel khas Blitar di wilayah Tulungagung.

Evi melihat peluang ketika toko yang sudah berlangganan sambal pecel buatannya menjual kopi hijau pelangsing badan namun belum dikemas menarik.

“Saat itu saya iseng-iseng membeli setengah kilo gram untuk saya uji khasiatnya. Saya beli, dari toko partner usaha sambel pecel saya. Setelah 10 hari ternyata berat badan saya berhasil turun 2 Kg. Hal ini membuat saya semakin tertarik memproduksi kopi hijau dengan kemasan yang lebih elegant,” terang Evi pada Tulungagung TIMES, Kamis (13/04/2017).

Berawal dari situ, Evi mulai belajar membuat klasifikasi biji kopi yang bagus. Mencoba memilih langsung dari petani, mencari kemasan yang berkualitas dan belajar marketing melalui dunia maya.

Dari usahanya yang baru ia geluti sejak 22 Februari 2017 lalu, omset yang ia daptakan dari bulan ke bulan terus meningkat. Testimoni pembeli yang merasa puas dengan produk Green Coffe miliknya terus berdatangan.

Sampai saat ini, Evi sudah mendapat orderan dari berbagai kota di Nusantara. Dari kota yang ada di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali sampai Papua.

“Aku jualannya santai, itulah bedanya jadi karyawan atau pengusaha. Kalau karyawan harus manut jam kerja, kalau usaha sendiri tidak!” tambahnya.

 “Bisa tak sambi kuliah dan main-main, bulan lalu dengan santai sambil main android aku bisa dapet 5 jutaan,” pungkas  Evi.